Hari Senin, tanggal 21 Oktober 2024 pukul 13.00 adalah pengalaman pertama saya sebagai narasumber webinar. Tentu saja, hal tersebut sangat menantang dan mendebarkan.
![]() |
| Flyer Webinar #3 yang dibagikan melalui media sosial |
Bicara tentang webinar, bukanlah hal asing. Bahkan saya sempat menjadi webinar hunter alias pemburu webinar, tentunya sebagai peserta. Selain karena tugas, alasan lainnya adalah karena dengan ikut webinar, tanpa kita perlu pergi jauh, kita tetap bisa mendapatkan ilmu dan bonusnya adalah sertifikat yang sangat mendukung kepentingan pekerjaan. Jika beruntung, terkadang kita bisa juga mendapatkan doorprize. Tapi, webinar kali ini berbeda, bukan sebagai peserta, melainkan menjadi salah satu narasumbernya. Bagaimana bisa ya?
Sedikit flashback. Awal mula saya berkesempatan menjadi narasumber webinar
adalah karena keikutsertaan saya di program PembaTIK tahun 2024 yang diselenggarakan oleh
BLPT (Balai Layanan Platform Teknologi) Kemendikbudristek. Penyelenggaraan
program PembaTIK ini terdiri dari 4 level. Ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi
peserta PembaTIK untuk bisa lulus dan lolos dari level pertama ke level selanjutnya, hingga kemudian melenggang ke level 4. Mereka yang lolos ke level 4 ini adalah 30
peserta terbaik di provinsinya dan resmi mendapat sebutan Sahabat Teknologi
yang biasa disingkat SATE. Salah satu kegiatan yang harus dipenuhi para Sahabat Teknologi ini
adalah berbagi dan berkolaborasi terkait praktik baik dengan
mengimplementasikan hasil kreasi yang sudah dikembangkan di level 3. Mengenai program
PembaTIK dan kegiatan di tiap levelnya ini, akan saya urai di edisi tulisan saya
yang lain.
Kembali ke topik awal, narasumber webinar. Yess, dengan semangat 45 dan menjadi si paling-paling terniat, saya pun mulai membuat persiapan seperti menyiapkan materi presentasi yang apik, berkoordinasi dengan rekan sesama narasumber untuk membuat flyer yang menarik dan memilih keynote speaker webinar, serta cek alat. Mode begadang sampai dengan kerja keras bak kuda yang tak kenal lelah, mengerjakan itu semua di tengah padatnya jam mengajar pun saya jalani. Okay, materi sudah siap, lanjut mulai cek alat sembari tetap koordinasi dengan rekan kolaborasi. Gotcha! Selalu saja ada kendala yang muncul sebagai penyerta proses. Tampilan layar ternyata tidak baik-baik saja karena kamera laptop buram. Selain itu, suaranya juga tidak paripurna. Jalan ninja pun mode on. Bantuan rekan kerja yang tepat di sekolah adalah solusinya.
Hari
webinar pun tiba. Webinar ini adalah webinar berbagi praktik baik seri yang ketiga dengan mengangkat tema
Learning with A Click: Pembelajaran Seru Berbantuan Teknologi. Webinar
diselenggarakan melalui komunitas Sahabat PembaTIK DIY dan disiarkan melalui
kanal Youtube Sahabat PembaTIK DIY. Hasil kesepakatan dengan rekan narasumber, keynote
speaker webinar adalah Bapak Sigit Suryono, S.Pd., Duta Teknologi Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta Tahun 2018. Dalam materi yang disampaikannya, ada poin yang saya tangkap. Beliau menyampaikan bahwa
keberadaan teknologi itu sudah menyentuh ranah yang paling dasar sehingga kita
harus terus belajar. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, semuanya dimulai
dengan trial and error.
Selanjutnya adalah sesi berbagi praktik baik. Ketiga narasumber berasal dari kabupaten Gunungkidul. Narasumber pertama adalah Ibu Dr. Laily Amin Fajariyah, M.Pd. dari SMP Negeri 5 Panggang yang memaparkan tentang BEST (Buffet English Speaking Tasks): Pembelajaran Berdiferensiasi Berbantuan Teknologi.
Berikutnya, narasumber kedua adalah saya sendiri. Saya membagikan praktik baik saya yang berjudul Pembelajaran Berdiferensiasi dengan Model Learning Station Terintegrasi Teknologi. Pertama, saya menginformasikan situasi dan kondisi pembelajaran di kelas saya terkait kebijakan sekolah memperbolehkan siswa membawa smartphone. Padahal faktanya teknologi yang digengam siswa itu menawarkan paket lengkap, manfaat dan godaannya. Selain itu, saya juga menceritakan bahwa pembelajaran di kelas saya belum sepenuhnya berpihak pada siswa. Masih ada siswa yang kurang semangat dan kurang aktif belajar. Kemudian, saya memaparkan tantangan yang muncul dalam pembelajaran sehingga harus segera diberi sentuhan aksi nyata untuk memperbaikinya.
Saya juga menyebutkan pemanfaatan teknologi yang bersahabat dan bisa diakses dengan smartphone siswa. Teknologi sederhana yang saya sebutkan adalah menyediakan konten pembelajaran yang bervariasi berupa video dari Youtube, game edukatif dengan Wordwall dan multimedia pembelajaran interaktif yang saya kembangkan dengan aplikasi Canva for Education. Ketiga konten tersebut diintegrasikan dalam model pembelajaran Learning Station sehingga setiap siswa mendapatkan peran dalam pembelajaran. Siswa tidak hanya duduk dan beraktivitas dengan smartphonenya, namun siswa juga bergerak secara dinamis dari stasiun satu ke stasiun berikutnya sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dari tiap stasiun. Saya juga menyampaikan refleksi dan hasil praktik baik saya pada peserta webinar yang intinya adalah bahwa pembelajaran dengan berbantuan teknologi menjadi terasa seru bagi siswa. Siswa pun menjadi antusias dalam belajar. Selain itu, rasa ingin tahu tentang kegiatan apa yang akan mereka lakukan di stasiun berikutnya membuat siswa menjadi lebih aktif dan terikat dalam pembelajaran.
![]() |
| Sesi Berbagi Praktik Baik |
Narasumber ketiga adalah Bapak Agus Wijayanto, S.Pd. dari SMP Negeri 1 Patuk. Beliau memaparkan praktik baik yang berjudul Happy Learning: Belajar Menyenangkan dengan Pemanfaatan Teknologi. Setelah ketiga narasumber selesai dengan paparan praktik baiknya, sesi tanya jawab atau diskusi pun dibuka. Ada pertanyaan yang ditujukan untuk ketiga narasumber. Pertanyaannya adalah bagaimana jika siswa tidak memiliki atau membawa smartphone untuk pembelajaran yang sudah direncanakan. Pertanyaan tersebut saya respon dengan mengatakan bahwa sebelum pembelajaran dengan smartphone itu dilaksanakan, kita sebagai guru perlu untuk mengomunikasikannya terlebih dahulu dan jika perlu mengingatkannya sebelum hari pembelajaran sehingga siswa bisa bersiap baik alat maupun ketersediaan kuotanya. Pertanyaan lain berisi bagaimana cara membuat multimedia pembelajaran interaktif (MPI) yang kami tampilkan pada sesi berbagi praktik baik dan meminta tautan yang bisa digunakan untuk mengakses MPI tersebut. Akhirnya, kegiatan webinar ditutup tepat pukul 15.00 WIB. Untuk melihat serunya webinar, silakan klik video berikut ini.
Berdasarkan data yang tercatat di daftar hadir yang dibagikan pada saat webinar, ada 157 peserta yang bergabung dalam webinar ini. Peserta tersebut adalah kepala sekolah, guru, dan mahasiswa hebat yang berasal dari semua jenjang pendidikan, bahkan ada yang berasal dari kalangan non pendidikan. Selain itu, peserta yang bergabung tidak hanya berasal dari provinsi DIY saja, ada juga yang berasal dari lintas provinsi seperti Jawa Tengah, DKI Jakarta, Sulawesi Tenggara, dan Riau. Namun begitu, ada juga peserta yang tidak menuliskan asalnya.
![]() |
| Tangkapan layar daftar hadir peserta webinar #3 |
Banyak hal yang bisa saya pelajari dari kegiatan ini. Penguasaan materi dan persiapan alat secara seksama belum cukup untuk menjamin kelancaran kegiatan berbagi praktik baik secara online ini. Kita juga harus melatih kemampuan berkomunikasi secara efektif sehingga materi yang kita bagikan tersampaikan dengan jelas.
![]() |
| Sesi foto bersama dengan peserta webinar #3 |
Inilah catatan yang bisa saya tuliskan. Belajar dari apa yang telah terjadi, guru
memang seharusnya memberikan pembelajaran yang berpihak pada siswa. Untuk itu, kita harus siap dan bersedia untuk terus belajar, berkreasi, berbagi dan berkolaborasi agar bisa membekali siswa kita sehingga mereka kelak bisa menjawab dan memenuhi tuntutan zaman.
#BLPTKemendikbudristek
#MerdekaBelajar
#PembaTIK2024
#SahabatTeknologiKemendikbudristek



.jpeg)
Mantap
BalasHapusSip Bu, noleh belajar berbagai teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran ya
BalasHapus